Sorotan Anggaran HUT RI ke-81 di Patani Timur Menguat, Warga Desak Camat Transparan Soal Konsumsi dan Honor Paskibraka

Admin RedMOL
0
Halmahera Tengah, Redmol.id — Pelaksanaan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Patani Timur, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, menuai sorotan warga. Persoalan yang dipertanyakan meliputi konsumsi Paskibraka, kelengkapan atribut, koordinasi pelaksanaan upacara, hingga pembayaran honor peserta, pelatih, dan tenaga yang membantu menyiapkan konsumsi.

Warga meminta Camat Patani Timur, Iswan Badar, membuka secara transparan penggunaan anggaran kegiatan tersebut, termasuk sumber anggaran, besaran belanja konsumsi, pengadaan perlengkapan, serta mekanisme pembayaran honor.

Sorotan ini mencuat setelah warga menyebut sejumlah kebutuhan peserta Paskibraka selama latihan hingga pelaksanaan upacara belum sepenuhnya terpenuhi.

Latihan Sempat Terhenti karena Persoalan Konsumsi

Berdasarkan keterangan sejumlah warga yang meminta identitasnya dirahasiakan, latihan Paskibraka di Kecamatan Patani Timur mulai berlangsung pada 1 Agustus 2026.

Namun, latihan disebut sempat terhenti pada 8 Agustus 2026 karena persoalan konsumsi. Saat itu, Camat Patani Timur disebut masih berada di luar daerah.

Latihan kemudian kembali dilaksanakan mulai 11 Agustus hingga menjelang upacara 17 Agustus 2026.

Peserta Paskibraka berjumlah 18 orang dan berasal dari sejumlah desa serta sekolah di wilayah Kecamatan Patani Timur.

Warga mempertanyakan mengapa kebutuhan konsumsi yang semestinya dapat dipetakan sejak awal justru disebut mengalami kekurangan saat latihan berlangsung.

Sejumlah bahan makanan yang disebut telah disiapkan antara lain beras, telur, mi instan, gula, minyak tanah, susu, teh celup, tepung terigu, air mineral, ikan, dan kacang hijau.

Namun, jumlah, volume, harga, serta nilai keseluruhan pengadaan bahan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan belum memperoleh penjelasan resmi dari Pemerintah Kecamatan Patani Timur.

Bahan Makanan Disebut Kembali Habis

Pada latihan lanjutan sejak 11 Agustus, warga menyebut persediaan makanan kembali habis sehingga kebutuhan konsumsi peserta diduga tidak terpenuhi secara maksimal.

Informasi yang diterima media menyebut pihak pelatih sempat meminta staf kecamatan menangani persoalan tersebut. Namun, staf disebut menyampaikan bahwa mereka tidak dapat mengambil keputusan tanpa arahan camat.

Setelah komunikasi dilakukan, Camat Patani Timur disebut datang membawa sejumlah bahan makanan, di antaranya susu, ikan kaleng, mi instan, beras, gula, dan minyak tanah.

Warga juga mempertanyakan informasi mengenai arahan penghematan penggunaan bahan makanan. Salah satu contoh yang disebut warga adalah penggunaan susu dalam pembuatan bubur kacang hijau yang diminta dikurangi dan diganti dengan gula.

Keterangan tersebut masih berupa informasi warga dan belum dikonfirmasi kepada Camat Patani Timur.

Malam Pengukuhan Paskibraka Dipersoalkan

Sorotan berikutnya menyangkut pelaksanaan malam pengukuhan Paskibraka yang disebut berlangsung sekitar pukul 22.00 WIT hingga 00.00 WIT.

Sejumlah pejabat dan staf disebut hadir, termasuk Sekretaris Kecamatan dan Kepala Pos Polisi setempat.

Warga menyebut Camat Patani Timur baru tiba sekitar pukul 23.00 WIT, sehingga kegiatan disebut mengalami keterlambatan.

Informasi ini juga masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak Kecamatan Patani Timur.

Upacara HUT RI Digelar di Desa Damuli

Upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Patani Timur dilaksanakan pada 17 Agustus 2026 sekitar pukul 10.30 WIT di Desa Damuli, Tanjung Lutu.

Warga menilai persiapan kegiatan masih menyisakan persoalan koordinasi dan pembagian tugas.

Masyarakat juga mempertanyakan tidak adanya panitia khusus HUT Kemerdekaan RI di tingkat kecamatan. Sebagian persiapan disebut lebih banyak ditangani pihak pelatih Paskibraka, mulai dari latihan hingga persiapan upacara.

Klaim tersebut belum memperoleh konfirmasi resmi dari pemerintah kecamatan.

Konsumsi Peserta Kembali Dipertanyakan

Pada hari pelaksanaan upacara, peserta disebut memperoleh makanan berupa kue dalam kotak pada pagi hari, sementara makan siang berupa nasi dan lauk ikan.

Namun, warga menilai jumlah atau porsi konsumsi belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan seluruh peserta.

Bahkan, seorang anggota Paskibraka disebut belum memperoleh konsumsi nasi secara memadai.

Persoalan serupa disebut terjadi pada agenda penurunan bendera, ketika peserta dikabarkan belum mendapatkan konsumsi dari pihak kecamatan.

Warga mempertanyakan kondisi tersebut karena jumlah peserta hanya 18 orang, sehingga kebutuhan konsumsi dinilai seharusnya dapat dihitung dan dipersiapkan secara terukur sejak awal.

Atribut Paskibraka Juga Disorot

Selain konsumsi, kelengkapan perlengkapan peserta juga menjadi perhatian.

Warga menyebut salah seorang peserta masih mengalami kekurangan baju, celana, dan kemeja. Peserta lainnya disebut kekurangan kaos kaki, pangkat PDU Paskibraka, lambang bagian kanan, pin, serta perlengkapan peci.

Terdapat pula informasi bahwa sebagian atribut merupakan perlengkapan lama yang digunakan kembali dan kemudian ditarik setelah kegiatan.

Kebutuhan lain seperti training satu pasang, sepatu satu pasang, dan topi juga disebut belum sepenuhnya terpenuhi.

Warga turut mempertanyakan pakaian Paskibraka yang disebut belum dilengkapi lambang Kecamatan Patani Timur.

Seluruh informasi tersebut masih perlu diverifikasi kepada pihak kecamatan.

Honor Paskibraka dan Pelatih Dipertanyakan

Persoalan yang paling mendapat perhatian warga adalah pembayaran honor atau uang jasa bagi peserta Paskibraka, pelatih, serta pihak yang membantu menyediakan konsumsi.

Menurut informasi warga, sebelumnya terdapat pembayaran sebesar Rp200 ribu untuk peserta dan Rp250 ribu untuk pelatih.

Namun, nominal tersebut disebut mendapat keberatan dari peserta maupun pelatih sehingga uang tersebut dikabarkan dikembalikan kepada pihak kecamatan.

Selanjutnya, muncul informasi mengenai rencana pembayaran sebesar Rp800 ribu untuk masing-masing peserta Paskibraka, Rp1 juta untuk masing-masing pelatih, dan Rp500 ribu untuk setiap ibu yang membantu memasak.

Dengan empat orang pelatih dan tiga orang yang membantu di dapur, warga mempertanyakan:

- Dari mana sumber anggaran pembayaran tersebut?

- Berapa total anggaran yang disiapkan?

- Apa dasar hukum atau dasar penganggarannya?

- Siapa yang menerima dan bertanggung jawab atas pembayaran?

- Kapan pembayaran tersebut dicairkan?

- Apakah seluruh peserta, pelatih, dan tenaga konsumsi akan menerima sesuai ketentuan?

Warga menilai pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka agar tidak muncul dugaan ataupun spekulasi mengenai pengelolaan anggaran kegiatan.

Warga Minta Pemkab Halteng Turun Tangan

Warga meminta Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah, khususnya Bupati, memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut dan memanggil Camat Patani Timur untuk memberikan penjelasan.

Masyarakat tidak ingin persoalan ini berkembang menjadi konflik. Mereka meminta pemerintah menyelesaikannya melalui mekanisme administrasi dan komunikasi yang terbuka.

Jika dalam evaluasi ditemukan adanya ketidaksesuaian pengelolaan anggaran, warga meminta dilakukan pemeriksaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi warga, persoalan ini bukan semata soal konsumsi atau honor, melainkan menyangkut transparansi penggunaan uang negara serta tanggung jawab pemerintah dalam melayani masyarakat dan membina generasi muda yang ditugaskan sebagai Paskibraka.

Camat Belum Beri Klarifikasi

Hingga berita ini diterbitkan, redaksi telah berupaya meminta konfirmasi kepada Camat Patani Timur Iswan Badar melalui sambungan telepon, WhatsApp, dan pesan konfirmasi.

Namun, hingga berita ini dipublikasikan, belum diperoleh tanggapan resmi dari Camat Patani Timur maupun Pemerintah Kecamatan Patani Timur.

Redaksi menegaskan bahwa seluruh informasi mengenai dugaan kekurangan konsumsi, atribut, maupun pembayaran honor dalam berita ini bersumber dari keterangan warga dan belum seluruhnya terverifikasi secara independen.

Karena itu, redaksi tetap memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada Camat Patani Timur dan Pemerintah Kecamatan Patani Timur untuk menyampaikan klarifikasi, koreksi, maupun hak jawab sesuai prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.

Masyarakat kini menunggu satu hal: keterbukaan pemerintah mengenai berapa anggaran yang digunakan, untuk apa anggaran tersebut dibelanjakan, dan apakah seluruh hak peserta, pelatih, serta pihak yang terlibat dalam kegiatan HUT RI ke-81 di Patani Timur telah dipenuhi.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)

#buttons=(Lanjutkan, Go it!) #days=(20)

Terima Kasi sudah berkunjung ke RedMOL ID, Info Lewat WhatSapp Hubungi Sekarang
Ok, Go it!